Sifat Gas
Zat dapat berada dalam tiga bentuk fisik yang berbeda
yaitu: padat, cair dan gas. Pada akan dibicarakan sifat-sifat fisik dan kimia yang khas dari
bentuk zat dan perubahan bentuk yang terjadi di antara mereka. Bagian ini khusus mengenai bentuk gas dimana gaya tarik-menarik molekulnya—yaitu gaya tarik-menarik
suatu molekul dengan molekul lainnya—sangat lemah. Gaya yang lemah ini menyebabkan inolekul-molekul dapat bergerak
dengan cepat dan bebas sehingga gerak-gerik
fisik dari gas hampir tak tergantung dari komposisi kimianya. Bahkan gerak-gerik dari gas dikendalikan oleh volume, tekanan, suhu dan jumlah molnya. Karena
variabel-variabel ini kepentingannya
sangat tinggi, pembicaraan akan dimulai dengan penggunaan variabel-variabel
ini pada bentuk gas.
Volume dan Tekanan
Bila gas dimasukkan ke dalam suatu wadah,
molekul-molekulnya akan bergerak
secara bebas dan akan menempati seluruh volume wadah tersebut. Akibatnya volume gas selalu diberikan berdasarkan volume dari wadahnya. Karena gas akan bercampur satu
sama lain secara bebas, bila ada
beberapa macam, gas dalam campuran, maka volume dari tiap komponen sama dengan volume wadah yang ditempati
seluruh macam gas.
Tekanan didefenisikan sebagai gaya per satuan luas; merupakan jumlah intensif yang didapat sebagai hasil
perbandingan dua kuantitas ekstensif yaitu gaya dan luas. Misalnya bila
suatu gaya sebesar 100 lb diberikan pads sebuah piston dengan luas 100 inci2,
tekanan tiap inci2adalah 100-1b/100
inci2 = 1 lb/inci2 (1 pound per inci2 atau 1
psi). Suatu gaya 1 lb yang menaikkan luas 1 inci2 tekanannya akan
sama dengan gaya 100 lb yang menekan 100 inci2
100 lb/ 100 inci2 = 1ilb/inci2
Bila
gaya sebesar 100 lb ditekankan pada luas yang kecil misalnya 1 inci2,
tekanannya akan besar sekali (Gambar 11.1). Sekarang
tekanannya adalah 100 Ib/inci2 = 100 psi. Ketergantungan dari tekanan pada gaya dan luas kemana dilakukan dialami oleh orang yang
pernah menginjak paku. Seseorang yang beratnya 110 lb bila menginjak
paku kecil yang ujungnya mempunyai luas 0,01 inci2 akan merasakan,
bagaimana besamya tekanan sebesar 11.000 psi!
Tekanan ini sudah lebih dari cukup untuk paku menusuk kulitnya.
Bila tekanan yang
dihasilkan oleh sebuah piston dilakukan pada zat yang mengalir (gas atau cairan) seperti terlihat pada gambar dibawah,
akan disebarkan merata ke segala arah sehingga seluruh dinding dari
wadah akan mendapat tekanan yang sama. Bila piston ditahan oleh gas atau cairan, berarti zat tersebut juga memberikan
tekanan yang sama terhadap piston dan dinding wadah.
Gambar Tekanan
adalah perbandingan antara gaya per luas. Gaya yang sama sebesar 100 Ib dilakukan pads dua buah piston, tetapi piston sebelah kanan yang luasnya lebib
kecit akan menghasilkan tekanan yang lebih besar Pada masing-masing sitinder tekanan yang .sama
akan dilakukan padaseluruh dinding.
|
Tekanan Atmosfir
Atmosfir yang
mengelilingi bumi adalah campuran berbagai gas. Tekanannya dengan mudah dapat
diperlihatkan oleh percobaan bila kita mengeluarkan udara dari wadah yang
terbuat dari baja? Sebelum udara dikeluarkan, udara di luar dan di dalam wadah
tekanannya sama. Tetapi ketika udara dikeluarkan yang tinggal hanya tekanan
atmosfir dari luar dan ini cukup kuat untuk membuat wadah baja itu ringsek.
Tekanan
atmosfir diukur dengan suatu alat yang disebut barometer, salah satu
macamnya terlihat pada gambar dibawah. Alat ini dibuat dengan mengisi suatu
tabung gelas yang panjangnya 1 meter dengan air raksa, dan menutup ujungnya
sehingga air raksa tak akan keluar. Lalu tabung yang berisi air raksa ini dimasukkan ke dalam wadah yang juga berisi air raksa, sehingga ujungnya yang terbuka akan
terbenam dalam air raksa. Waktu tabung gelas dibalik, ada sedikit air
raksa yang keluar, sehingga tabung di atas tak berisi apa-apa (oakum). Air
raksa dalam tabung tetap bertahan karena adanya tekanan atmosfir ke permukaan
cairan air raksa.
Tinggi kolom air raksa, h, dalam
tabung gelas ternyata tak tergantung dari diameter dan panjang tabung gelas, asal saja
tabungnya cukup panjang untuk ruangan vakum
di atas air raksanya, tetapi tinggi dari air raksanya dapat berubah, tergantung
dari perubahan tekanan atmosfir. Misalnya bila akan ada angin topan, tekanan
atmosfir akan turun, maka tinggi kolom h
akan lebih pendek. Temyata yang dilaporkan pada laporan cuaca melalui radio dan TV mengenai tekanan
barometer adalah tinggi dari kolom air raksa tersebut umumnya dalam
centimeter (cm Hg) air raksa.
Bila tinggi dari kolom air raksa dalam .tabung
tak berubah, maka tekanan yang disebabkan kolom air raksa tepat sesuai dengan
tekanan atmosfir dapat kita nyatakan dengan tinggi dari kolom air raksa. Pada
permukaan laut tingginya berkisar sekitar 760 mm, sehingga angka ini yang
mendasari defenisi dari standar satuan tekanan yang disebut standar
atmosfir (atm). Defenisi mula-mula dari standar atmosfir sama dengan
tekanan yang dilakukan kolom air raksa setinggi 760 mm pada permukaan air laut
dan pada temperatur 0°C.
1 atm = 760 mm Hg
Dalam satuan Inggris satuan tersebut sama dengan tekanan
sebesar 14,7 lb/inci2.
Untuk satuan
internasional (SI) tekanan adalah Pascal (Pa) didefenisikan sebagai 1 newton (satuan Internasional
untuk gaya) per meter persegi.
I Pa = 1 N/m2 (Simbol
untuk newton N).
Setelah diperkenalkan satuan Internasional, defenisi standar atmosfir
diubah dalam istilah pascal, sehingga defenisinya sekarang
atm = 101.325 Pa= 101,325 kPa
Satuan yang lebih kecil dari tekanan, yang biasa digunakan dalam
percobaaan adalah torr, berasal dari name Evangelista Torricelli, yang menemukan
barometer. Defenisinya adalah 760 torr sesuai dengan 1 atm. Tekanan barometer
yang normal pada permukaan laut kira-kira 29,9 inci air raksa.
1 atm = 760 torr
Untuk semua pengukuran tekanan gas, 1 torr dapat
dianggap sama dengan tekanan oleh kolom air raksa setinggi 1 mm.
I torr = 1 mm Hg
Dalam laboratorium
kimia lebih mudah untuk menggunakan satuan torr dan atm dari pada dengan
pascal. Sehingga untuk mudahnya kita tidak menggunakan SI.
Mengukur
Tekanan Gas yang Terperangkap
Sering
diperlukan untuk mengukur tekanan gas yang terdapat dalam suatu sistim yang
tertutup (misalnya gas yang dihasilkan suatu reaksi kimia). Alat yang biasa dipa kai untuk mengukur tekanan semacam ini disebut
manometer. Suatu manometer (gambar dibawah) yang berbentuk tabung U mengandung cairan air raksa.

Salah satu tangan tabung dihubungkan dengan sistim dimana tekanan gasnya akan diukur, sedangkan
tangan lainnya tetap terbuka. Kalau tekanan gas di dalam sistim (Pgas)
sama dengan Patm., tinggi permukaan air raksa di kedua tangan
akan sama (Gambar a) Bila tekanannya lebih
besar dari Patm,, tinggi air raksa pada tangan -sebelah kiri akan ditekan ke bawah yang menyebabkan
permukaan air raksa sebelah kanan naik (Gambar b). Tekanan gas dari sistim akan
kita ketahui dengan membandingkan kedua
tangan tabung pada permukaan tertentu (h0) yaitu kita pilih tinggi dari air raksa yang lebih pendek. Tekanan pada
kolom sebelah kiri bila Pgas
> Patm. adalah juga Pgas., sedangkan pada permukaan
yang sama pada kolom, sebelah kanan
tekanannya adalah tekanan atm ditambah tekanan dari air raksa yang naik di atas ho = PHg.
Bila
permukaan tetap, tekanan pada permukaan yang ditentukan pada kedua sisi adalah
sama, sehingga
Pgas
= Patm + PHg
Tekanan atmosfir Patm dapat
dilihat dari barometer dan PHg tak lain adalah perbedaaan dari
tinggi kolom air raksa. Demikian juga, bila Pgas. < Patm (Gambar c) maka
tekanan ditangan sebelah kiri pada permukaan
yang ditentukan adalah Pgas + PHg, sedangkan kolom
sebelah kanan tekanannya = Patm..
Dalam hal ini bila kolom tetap, maka
Pgas + PHg = Patm
Sehingga
Pgas = Patm - PHg
Sehingga bila Pgas <
Patn maka tekanan gas dari sistim didapat dari hasil pengurangan tekanan atmosfir dengan perbedaan
tinggi kolom air raksa.
Suatu manometer
tertutup, pada Gambar berikut sering
digunakan untuk mengukur tekanan gas yang
rendah karena ukurannya kecil. Terdiri dari
tabung U dengan salah satu tangannya tertutup mati. Bila tabung di sebelah
kanan yang tertutup pendek dan tabung di sebelah kiri dibuka ke udara
terbuka, maka air raksa akan mengisi tabung sebelah kanan seluruhnya. Kemudian
bila manometer ini dihubungkan dengan alas yang berisi gas yang mempunyai
tekanan rendah itu, air raksa pada tabung sebelah
kanan akan turun (Gambar b). Pada permukaan yang ditentukan, tekanan
pada tabung sebelah kiri sama dengan tekanan gas Pgas , sedangkan pada tabung sebelah kanan pada
permukaan yang sama, tekanannya adalah PHg,
karena ruang di atas air raksa adalah vakum. Bila kolomnya tetap, tekanannya adalah Pgas. = PHg. Sehingga
tekanan dari gas diukur dengan mengambil perbedaan
dari tinggi air raksa dikedua tabung manometer. Salah satu keunggulan dari
penggunaan manometer tertutup adalah kita tidak perlu mengukur tekanan atmosfir
secara. terpisah.

Suatu
manometer tertutup dapat dibuat secara sederhana
untuk pengukuran tekanan yang rendah. (a)
Bila tekanan gas sama dengan tekanan
atmosfir, bila tabungnya pendek, air
raksa akan didorong sampai memenuhi
seluruh tabung sebelah kanan. (b) Tekanan gas dapat diukur langsung, bila jauh lebih kecil dari tekana
Pada soal-soal dengan manometer terbuka, lebih balk
digambarkan alatnya, bare ditentukan tekanan
gas tersebut adalah tekanan atmosfir
harus ditambah atau dikurangi dengan perbedaan tinggi air raksa.
Penggunaan Cairan Lain Selain Air Raksa dalam Manometer
Air raksa tidaklah satu-satunya
cairan yang digunakan dalam manometer, lebih-lebih bila ingin mengukur tekanan
yang rendah. Hal ini disebabkan karena air raksa yang mempunyai rapatan besar,
akan memberikan
perbedaan yang sangat kecil pada kolom manometer, khususnya bila yang diukur tekanan yang kecil. Sebaliknya bila
cairan yang dipakai rapatannya kecil maka
perbedaannya akan lebih besar. Misalnya tekanan 1 torr sama dengan
tinggi air raksa 1 mm, tapi air yang rapatannya 1/13,6 kali dibandingkan air
raksa akan memberikan tinggi air 13,6 mm untuk tekanan yang sama. Pengaruh yang
sama akan dihasilkan bila kita menggunakan
cairan yang berat jenisnya setengah dari air raksa. Tekanan 1 torr sama dengan tinggi merkuri 1mm, tetapi
akan memberikan tinggi 2 mm tinggi kolom
cairan lain.
Ada hubungan yang mudah antara tinggi cairan pada kolom manometer (atau barometer) dengan
rapatannya. Misalkan
dun cairan A dan
B untuk tekanan tertentu tinggi kolom cairan A adalah hA, sedangkan tinggi cairan kolom B adalah hB,
sehingga
hB
= hA x dA/dB
Contoh Soal
SOAL: Suatu cairan dengan
berat jenis 1,15 g/mL digunakan dalam suatu manometer
terbuka. Pada suatu percobaan, perbedaan dari tinggi permukaan pada kedua
tangan adalah 14,7 mm, dimana tangan yang dihubungkan dengan gas yang
akan diukur tinggi permukaan air raksanya lebih rendah dari pada permukaan yang terbuka keudara. Bila tekanan barometer 756,00 torr.
Berapa tekanan gas yang
terperangkap itu?
ANALISIS: Langkah pertama adalah membayangkan percobaan ini.
Keadaan yang digambarkan dalam
soal sesuai dengan yang diberikan pada manometer tertutup, sehingga kita tahu
bahwa harus menambahkan perbedaan tekanan pada tekanan atmosfir.
Pgas = Patm + Pcairan
Tetapi sebelum hal ini dapat dilakukan, kita harus mengubah perbedaan
tinggi cairan ke tekanan dalam torr, yang berarti harus digunakan Persamaan diatas
PENYELESAIAN: Kita ubah dahulu perbedaan tinggi
permukaan cairan dari "mm cairan " ke "mm Hg" yang ekivalen dengan torr. Rapatan air raksa 13,6 g/mL
hHg = hcairan x dcairan/dHg
= 14,7 mm cairan x 1,15/13,6
= 1,24 mm Hg
Perhitungan seperti
contoh diatas ini juga dapat dipakai untuk mengetahui berapa tingginya air
pada kolom barometer bila yang digunakan adalah cairan bukannya air raksa. Pada tekanan atmosfir tepat 1 atm, tingginya air adalah
1,03 x 104 mm atau dalam satuan Inggris = 33,8 feet (ft). Kenyataan
inilah yang menyebabkan mengapa yang dipakai air raksa bukannya air, sebab bila dipakai air, tinggi barometer akan hampir
setinggi rumah tingkat tiga. Sedangkan untuk pengetahuan praktis dari
perhitungan ini dapat kita mengerti mengapa pompa hisap tak mungkin mengangkat
air lebih tinggi dari 33 ft bagaimana pun kerasnya pompa itu bekerja. Walaupun pompa tersebut dapat membuat
ruang vakum yang sempurna, tekanan
atmosfir sebesar 1 atm hanya dapat mendorong air melalui pipa ke atas
setinggi 33,8 ft.
Hubungan antara Tekanan, Volume dan Suhu untuk Sejumlah Gas Tertentu
Telah kita ketahui bagaimana gas berperilaku,
berdasarkan pengalaman sehari-hari, bila kita memompakan udara ke wadah dengan volume yang lebih kecil misalnya saja melalui ventil ke ban
sepeda tanpa ada udara yang keluar (Gambar berikut)
maka tekanan udara akan naik (besar). Anda
telah mengetahui bahwa tekanan gas naik bila volumenya dikecilkan.
Andapun tabu bila udara dipanaskan, akan memuai sehingga volumenya membesar maka berat per satuan volumenya
(atau berat jenisnya) akan mengecil.
Hal inilah yang menyebabkan mengapa balon yang diisi udara panas akan
melayang pada udara sekeliling balon yang suhunya lebih dingin. Sekarang Anda telah mengerti bahwa volume gas akan memuai bila temperatur naik. Sehingga sekarang kita mengerti mengapa wadah aerosol bila diletakkan di api akan
meledak, sebab gas pada tempat tertutup bila dipanaskan,
tekanannya akan meningkat.
Berdasarkan pengamatan hal inilah yang mendasari mengapa
ahliahli mempelajari sifat gas secara sistematis. Umumnya percobaannya adalah
mengambil suatu sampel gas pada tempat tertutup, lalu mengamati apa yang
terjadi bila tekanan, volume dan suhunya diubah-ubah. Karena menyangkut tiga
variabel, maka salah satu harus dibuat konstan dan hubungan kedua variabel lain
ditentukan. Dari penelitian ini gerbagai hukum
gas dibuat. Misalnya pada tahun 1662 Robert Boyle seorang ahli kimia
dan fisika dari Irlandia melaporkan bahwa bila suhu dari suatu sampel gas
dibuat konstan, volumenya akan berbanding terbalik
dengan tekanan gasnya. Hubungan ini dikenal sebagai hokum Boyle dan bentuk persamaannya adalah
V ~ 1 / p (pada suhu konstan)
Persamaan ini dapat
diganti dengan memasukkan konstanta yang sebanding
V = konstan
P
atau bila
perbandingannya dihilangkan akan didapat
PV = konstan
Dalam
tahun 1787 seorang ahli kimia Perancis.yang bernama Jacques Alexander Charles tertarik pada balon udara panas yang pada tahun itu mulai terkenal di Perancis. Dipelajarinya
apa yang tedadi pada volume gas bila
suhu diubah-ubah tetapi tekanannya dibuat konstan. Bila data-data
percobaan ini dibuat diagram maka akan didapat bentuk grafik seperti pada
Gambar berikut. Di sini volume gas
dibuat sebagai fungsi dari suhu dalam Celsius. Karena semua gas nyata akan
berkondensasi bila didinginkan secukupnya, akan terlihat pada suhu rendah,
garis-garisnya berbentuk tebal. Tetapi bila garis-garis ini diekstrapolasi kembali ke temperatur 0, akan kembali bertemu pada
suhu — 273,15 °C. Keistimewaan yang menonjol adalah sifat ini akan
diketemukan pada semua gas, bila volume dan
suhu dikembalikan pada volume 0, suhunya selalu kembali pada —273,15 °C.
Jadi titik ini mewakili suhu dimana semua gas bila tidak berkondensasi,
volumenya akan nol, sedangkan di bawah suhu ini volumenya akan negatif. Tetapi
volume negatif tentu saja tidak mungkin. Jadi seharusnya temperatur ini adalah
suhu yang paling dingin dan disebut suhu nol absolut.
Seperti telah diketahui, nol absolut sesuai dengan titik
nol pada skala temperatur
Kelvin (Disebut jugs skala suhu absolut). Ingat bahwa untuk mendapatkan suhu Kelvin harus ditambah 273,15 pads
temperatur Celsius
TK = ToC
+ 273.15
Untuk maksud-maksud
yang biasa, hanya diperhatikan tiga angka, sehingga 0°C = 273 K dan dapat
digunakan hubungan
TK - T.c + 273
Garin
yang lurus pads Gambar 11.8 menandakan pads tekanan yang tetap, volume gas
adalah berbanding langsung dengan suhu, bila suhu dinyatakan dengan Kelvin. Hal tersebut dikenal dengan hukum Charles dan
secara matematik adalah
V ~T
(Pada tekanan tetap)
dimana T
adalah temperatur absolut (akan dilihat bahwa skala suhu absolut selalu dipakai bila angka temperatur akan
dimasukkan ke dalam perhitungan yang ada tekanan atau volume dari gas)
Hukum Charles dapat juga dinyatakan sebagai,tanda "sama
dengan" dengan menambahkan konstan kesebandingan
V/T = konstan
Yoseph
Gay-Lussac, teman seangkatan dari Charles dengan mengambil
cara pendekatan yang lain, meneliti bagaimana bila volumenya dibuat konstan maka tekanannya akan tergantung
dari suhu. Dia juga menemukan bahwa tekanan juga akan sebanding dengan
temperatur absolut pada volume yang tetap.
Persamaan hukum Gay-Lussac adalah.
P ~ T (pads volume konstan)
atau
P/T = konstan
Hukum Gabungan Gas
Tiga hukum gas di etas dapat disatukan
menjadi sebuah hukum yang dikenal
dengan hukum gabungan gas yang dinyatakan dengan
PV/T = konstan
Hukum ini biasanya dipakai dalam soal-soal dimana diberikan beberapa
keadaan suhu, tekanan dan volume untuk sejumlah gas tertentu dan kita, ingin
mengetahui perubahan variabel ini bila variabel lainnya diubah. Bila keadaan
mula-mula kita beri tanda masing-masing Pi, Vi dan Ti sedangkan keadaan akhir dengan Pf,
Vf dan Tf, maka hukum gabungan gas dapat ditulis
dengan bentilk yang sangat penting yaitu
(Pi, Vi )/ Ti = (Pf, Vf)/Tf
Contoh Soal
SOAL: Suatu sampel gas dalam. wadah 300 mL akan
memberikan tekanan sebesar 625 torr pads suhu 25 oC. Berapa tekanannya bila gas ini
kita tempatkan pads wadah 500 mL
dan suhunya 25 oC?
ANALISIS: Dari soal ini dapat
kita ketahui bahwa sejumlah gas tertentu dipindahkan
dari suatu tempat ke tempat lain dengan mengubah tekanan, suhu dan
volumenya, maka harus dipakai rumus hukum gabungan gas.
Seperti terlihat pada jawaban, sebaiknya dibuat label dari data sesuai dengan yang diberikan yaitu keadaan
mula-mula dan akhir. Cara
ini dapat menghindari kesalahan
dan membantu mengenali kuantitas yang belum di ketahui yang
perlu diselesaikan.
Kita gunakan persamaan hokum gabungan untuk memecahkan
soal ini, yaitu tekanan akhir yang dicari. Persamaan ini akan berbentuk
Pf = Pix(Vi /Vf) x(Tf / Ti)
Perhatikan bahwa tekanan akhir sama
dengan tekanan mula-mula dikalikan perbandingan volume dan perbandingan suhu. Tentu saja dengan memasukkan jumlah yang sesuai dengan datapun hasil akhir akan
didapat. Selain itu untuk memeriksa
betul tidaknya penggunaan Persamaan diatas secara benar, dapat dipakai
cara pemikiran yang logis. Untuk melakukan hal ini kita gunakan pengaruh volume
dan suhu pada tekanan gas untuk menentukan jumlah yang mana akan menjadi
pembilang atau penyebut pada perbandingan tersebut.
Untuk membantu Anda berpikir, di bawah ini diberikan cara pemecahan
soal-soal.
PENYELESAIAN:
Dimulai dengan
membuat tabel data. Harus diingat bahwa
suhu diubah dahulu menjadi Kelvin. Sehingga 25 oC
menjadi 298 K (25 + 273) dan 50 oC
menjadi 323 K.
Mula-mula (i) Akhir
(f)
P 625
torr ?
V 300 mL 500 mL
T 298 K 323
K
Sebetulnya cukup mudah untuk memasukkan data ini ke dalam
persamaan. Tetapi
marilah kita pakai cara pemikiran yang logis dalam menentukan bagaimana cara memastikan ratio volume dan suhu untuk mendapat
tekanan akhir.
Pf = P, x
(perbandingan volume) x (perbandingan suhu)
Kita bayangkan bahwa untuk mendapat hasil akhir, kita
lakukan dalam dua langkah, mula-mula pada temperatur tetap, volume diubah, kemudian pada langkah kedua volume kita buat konstan sedangkan suhu
diubah.
Perhatikan bahwa dalam soal ini volumenya naik dari 300 mL menjadi 500 mL.
Kita ketahui hal ini akan menyebabkan tekanan turun karena tekanan gas akan
berbanding terbalik dengan volumenya. Dengan lain perkataan, bila volume naik,
tekanan turun, maka perbandingan volume di sini harus demikian rupa agar tekanan akhir lebih kecil dari
tekanan mula-mula dengan demikian volume yang kecil letaknya pada
pembilang dalam perbandingan volume. Volume yang kecil adalah volume asal, maka
perbandingan volumenya adalah
(300 mL / 500 mL)
Sehingga
kita dapatkan
Pf = P, x (300
mL / 500 mL) x (perbandingan suhu)
= 625 x (300 mL / 500 mL) x (323/298)
= 406 torr
REFERENSI
:
- Chemistry,
Reactions, Structure, and Properties., Clyde
R.Dilliard & David E.Goldberg
- Kimia
Universitas, Asas & Struktur,. James E. Brady