Rabu, 05 September 2012

Friend !!!

»»  READMORE...

Puisi "Purnama Terakhir"

Dua purnama telah berlalu bersama janji manismu
Hari hari pun telah terlewati bersama leburan hatiku
Ku berdo'a dan ku setia menunggu, untuk datangnya dirimu
Karena tanpa hadirnya dirimu saat ini, aku bagaikan butiran debu

Empat purnama telah berlalu seiring datangnya mentari
Di bawah panas teriknya mentari ku tetap setia berdiri untuk menanti
Akankah senja akan membawamu kembali kepada kesunyian hati
Dingin, kelam, buruk, baik, dendam, marah, syirik sebagian penyakit hati

Enam purnama telah berlalu dengan jeritan di hatiku
Bimbang dan kecewa menjadi racun yang ingin membunuhku
Akankah kau tau, dalamnya belati yang kau tanam di jiwaku
Begitu dalam begitu sakit bahkan mati pun aku rela untukmu

Delapan purnama telah berlalu dengan belati yang tertancap di hatiku
Kenangan, waktu, penantian, cinta semua itu sudah melayu
Kemarau panjang yang menusukku membuatku jatuh, hancur karena dusta mu
Penantian telah berakhir dengan air mata yang mengering, dan jadikan sebagai purnama terakhirku.


created by : Niko Pratomo



Kunjungi Saya di http://zentheis.blogspot.com/

Kunjungi Facebook Saya di https://www.facebook.com/Zentheis?ref=nf
»»  READMORE...

Selasa, 04 September 2012

SIFAT FISIK DAN KEADAAN BAHAN



Sifat Gas
Zat dapat berada dalam tiga bentuk fisik yang berbeda yaitu: padat, cair dan gas. Pada akan dibicarakan sifat-sifat fisik dan kimia yang khas dari bentuk zat dan perubahan bentuk yang terjadi di antara mereka.  Bagian ini khusus mengenai bentuk gas dimana gaya tarik-menarik molekulnya—yaitu gaya tarik-menarik suatu mo­lekul dengan molekul lainnya—sangat lemah. Gaya yang lemah ini menyebabkan inolekul-molekul dapat bergerak dengan cepat dan bebas sehingga gerak-gerik fisik dari gas hampir tak tergantung dari kompo­sisi kimianya. Bahkan gerak-gerik dari gas dikendalikan oleh volume, tekanan, suhu dan jumlah molnya. Karena variabel-variabel ini kepen­tingannya sangat tinggi, pembicaraan akan dimulai dengan penggunaan variabel-variabel ini pada bentuk gas.
Volume dan Tekanan
Bila gas dimasukkan ke dalam suatu wadah, molekul-molekulnya akan bergerak secara bebas dan akan menempati seluruh volume wadah tersebut. Akibatnya volume gas selalu diberikan berdasarkan volume dari wadahnya. Karena gas akan bercampur satu sama lain secara bebas, bila ada beberapa macam, gas dalam campuran, maka volume dari tiap komponen sama dengan volume wadah yang ditempati seluruh macam gas.
Tekanan didefenisikan sebagai gaya per satuan luas; merupakan jumlah intensif yang didapat sebagai hasil perbandingan dua kuantitas ekstensif yaitu gaya dan luas. Misalnya bila suatu gaya sebesar 100 lb diberikan pads sebuah piston dengan luas 100 inci2, tekanan tiap inci2adalah 100-1b/100 inci2 = 1 lb/inci2 (1 pound per inci2 atau 1 psi). Suatu gaya 1 lb yang menaikkan luas 1 inci2 tekanannya akan sama dengan gaya 100 lb yang menekan 100 inci2
100 lb/ 100 inci= 1ilb/inci2
Bila gaya sebesar 100 lb ditekankan pada luas yang kecil misalnya 1 inci2, tekanannya akan besar sekali (Gambar 11.1). Sekarang tekanan­nya adalah 100 Ib/inci2 = 100 psi. Ketergantungan dari tekanan pada gaya dan luas kemana dilakukan dialami oleh orang yang pernah menginjak paku. Seseorang yang beratnya 110 lb bila menginjak paku kecil yang ujungnya mempunyai luas 0,01 inci2 akan merasakan, bagai­mana besamya tekanan sebesar 11.000 psi! Tekanan ini sudah lebih dari cukup untuk paku menusuk kulitnya.
Bila tekanan yang dihasilkan oleh sebuah piston dilakukan pada zat yang mengalir (gas atau cairan) seperti terlihat pada gambar dibawah, akan disebarkan merata ke segala arah sehingga seluruh dinding dari wadah akan mendapat tekanan yang sama. Bila piston ditahan oleh gas atau cairan, berarti zat tersebut juga memberikan tekanan yang sama ter­hadap piston dan dinding wadah.

Gambar Tekanan adalah perbandingan antara gaya per luas. Gaya yang sama sebesar 100 Ib dilakukan pads dua buah piston, tetapi piston sebelah kanan yang luasnya lebib kecit akan mengha­silkan tekanan yang lebih besar Pada masing-masing sitinder tekan­an yang .sama akan dilakukan padaseluruh dinding.
Tekanan Atmosfir
Atmosfir yang mengelilingi bumi adalah campuran berbagai gas. Te­kanannya dengan mudah dapat diperlihatkan oleh percobaan bila kita mengeluarkan udara dari wadah yang terbuat dari baja? Sebelum udara dikeluarkan, udara di luar dan di dalam wadah tekanannya sama. Tetapi ketika udara dikeluarkan yang tinggal hanya tekanan atmosfir dari luar dan ini cukup kuat untuk membuat wadah baja itu ringsek.
Tekanan atmosfir diukur dengan suatu alat yang disebut barometer, salah satu macamnya terlihat pada gambar dibawah. Alat ini dibuat dengan mengisi suatu tabung gelas yang panjangnya 1 meter dengan air raksa, dan menutup ujungnya sehingga air raksa tak akan keluar. Lalu tabung yang berisi air raksa ini dimasukkan ke dalam wadah yang juga berisi air raksa, sehingga ujungnya yang terbuka akan terbenam dalam air raksa. Waktu tabung gelas dibalik, ada sedikit air raksa yang keluar, sehingga tabung di atas tak berisi apa-apa (oakum). Air raksa dalam tabung tetap bertahan karena adanya tekanan atmosfir ke permukaan cairan air raksa.
Tinggi kolom air raksa, h, dalam tabung gelas ternyata tak tergantung dari diameter dan panjang tabung gelas, asal saja tabungnya cukup panjang untuk ruangan vakum di atas air raksanya, tetapi tinggi dari air raksanya dapat berubah, tergantung dari perubahan tekanan atmosfir. Misalnya bila akan ada angin topan, tekanan atmosfir akan turun, maka tinggi kolom h akan lebih pendek. Temyata yang dilaporkan pada laporan cuaca melalui radio dan TV mengenai tekanan barometer adalah tinggi dari kolom air raksa tersebut umumnya dalam centimeter (cm Hg) air raksa.
Bila tinggi dari kolom air raksa dalam .tabung tak berubah, maka tekanan yang disebabkan kolom air raksa tepat sesuai dengan tekanan atmosfir dapat kita nyatakan dengan tinggi dari kolom air raksa. Pada permukaan laut tingginya berkisar sekitar 760 mm, sehingga angka ini yang mendasari defenisi dari standar satuan tekanan yang disebut stan­dar atmosfir (atm). Defenisi mula-mula dari standar atmosfir sama dengan tekanan yang dilakukan kolom air raksa setinggi 760 mm pada permukaan air laut dan pada temperatur 0°C.
1 atm = 760 mm Hg
Dalam satuan Inggris satuan tersebut sama dengan tekanan sebesar 14,7 lb/inci2.
Untuk satuan internasional (SI) tekanan adalah Pascal (Pa) dide­fenisikan sebagai 1 newton (satuan Internasional untuk gaya) per meter persegi.
I Pa = 1 N/m2                                                                              (Simbol untuk newton N).
Setelah diperkenalkan satuan Internasional, defenisi standar atmosfir diubah dalam istilah pascal, sehingga defenisinya sekarang
atm = 101.325 Pa= 101,325 kPa
Satuan yang lebih kecil dari tekanan, yang biasa digunakan dalam percobaaan adalah torr, berasal dari name Evangelista Torricelli, yang menemukan barometer. Defenisinya adalah 760 torr sesuai dengan 1 atm. Tekanan barometer yang normal pada permukaan laut kira-kira 29,9 inci air raksa.
1 atm = 760 torr                                                                         
Untuk semua pengukuran tekanan gas, 1 torr dapat dianggap sama dengan tekanan oleh kolom air raksa setinggi 1 mm.
I torr = 1 mm Hg
Dalam laboratorium kimia lebih mudah untuk menggunakan satuan torr dan atm dari pada dengan pascal. Sehingga untuk mudahnya kita tidak menggunakan SI.
Mengukur Tekanan Gas yang Terperangkap
Sering diperlukan untuk mengukur tekanan gas yang terdapat dalam suatu sistim yang tertutup (misalnya gas yang dihasilkan suatu reaksi kimia). Alat yang biasa dipa kai untuk mengukur tekanan semacam ini disebut manometer. Suatu manometer (gambar dibawah) yang berbentuk tabung U mengandung cairan air raksa.


Salah satu tangan tabung di­hubungkan dengan sistim dimana tekanan gasnya akan diukur, sedang­kan tangan lainnya tetap terbuka. Kalau tekanan gas di dalam sistim (Pgas) sama dengan Patm., tinggi permukaan air raksa di kedua tangan akan sama (Gambar a) Bila tekanannya lebih besar dari Patm,, tinggi air raksa pada tangan -sebelah kiri akan ditekan ke bawah yang menye­babkan permukaan air raksa sebelah kanan naik (Gambar b). Tekanan gas dari sistim akan kita ketahui dengan membandingkan kedua tangan tabung pada permukaan tertentu (h0) yaitu kita pilih tinggi dari air raksa yang lebih pendek. Tekanan pada kolom sebelah kiri bila Pgas > Patm. adalah juga Pgas., sedangkan pada permukaan yang sama pada kolom, sebelah kanan tekanannya adalah tekanan atm ditambah tekanan dari air raksa yang naik di atas ho = PHg. Bila permukaan tetap, tekanan pada permukaan yang ditentukan pada kedua sisi adalah sama, sehingga
Pgas = Patm + PHg
Tekanan atmosfir Patm dapat dilihat dari barometer dan PHg tak lain adalah perbedaaan dari tinggi kolom air raksa. Demikian juga, bila Pgas. < Patm (Gambar c) maka tekanan ditangan sebelah kiri pada per­mukaan yang ditentukan adalah Pgas + PHg, sedangkan kolom sebelah kanan tekanannya = Patm.. Dalam hal ini bila kolom tetap, maka
Pgas + PHg = Patm
Sehingga
Pgas = Patm - PHg
Sehingga bila Pgas < Patn maka tekanan gas dari sistim didapat dari hasil pengurangan tekanan atmosfir dengan perbedaan tinggi kolom air raksa.
Suatu manometer tertutup, pada Gambar berikut  sering digunakan un­tuk mengukur tekanan gas yang rendah karena ukurannya kecil. Terdiri dari tabung U dengan salah satu tangannya tertutup mati. Bila tabung di sebelah kanan yang tertutup pendek dan tabung di sebelah kiri dibuka ke udara terbuka, maka air raksa akan mengisi tabung sebelah kanan selu­ruhnya. Kemudian bila manometer ini dihubungkan dengan alas yang berisi gas yang mempunyai tekanan rendah itu, air raksa pada tabung sebelah kanan akan turun (Gambar b). Pada permukaan yang diten­tukan, tekanan pada tabung sebelah kiri sama dengan tekanan gas Pgas , sedangkan pada tabung sebelah kanan pada permukaan yang sama, tekanannya adalah PHg, karena ruang di atas air raksa adalah vakum. Bila kolomnya tetap, tekanannya adalah Pgas. = PHg. Sehingga tekanan dari gas diukur dengan mengambil perbedaan dari tinggi air raksa dikedua tabung manometer. Salah satu keunggulan dari penggunaan manometer tertutup adalah kita tidak perlu mengukur tekanan atmosfir secara. terpisah.

Suatu manometer tertutup dapat dibuat secara seder­hana untuk pengukuran tekanan yang rendah. (a) Bila tekanan gas sama dengan tekanan atmosfir, bila tabungnya pendek, air raksa akan didorong sampai memenuhi selu­ruh tabung sebelah kanan. (b) Te­kanan gas dapat diukur langsung, bila jauh lebih kecil dari tekana
Pada soal-soal dengan manometer terbuka, lebih balk digambarkan alatnya, bare ditentukan tekanan gas tersebut adalah tekanan atmos­fir harus ditambah atau dikurangi dengan perbedaan tinggi air raksa.

Penggunaan Cairan Lain Selain Air Raksa dalam Manometer
Air raksa tidaklah satu-satunya cairan yang digunakan dalam manome­ter, lebih-lebih bila ingin mengukur tekanan yang rendah. Hal ini dise­babkan karena air raksa yang mempunyai rapatan besar, akan memberi­kan perbedaan yang sangat kecil pada kolom manometer, khususnya bila yang diukur tekanan yang kecil. Sebaliknya bila cairan yang dipakai rapatannya kecil maka perbedaannya akan lebih besar. Misalnya te­kanan 1 torr sama dengan tinggi air raksa 1 mm, tapi air yang rapatannya 1/13,6 kali dibandingkan air raksa akan memberikan tinggi air 13,6 mm untuk tekanan yang sama. Pengaruh yang sama akan dihasilkan bila kita menggunakan cairan yang berat jenisnya setengah dari air raksa. Tekan­an 1 torr sama dengan tinggi merkuri 1mm, tetapi akan memberikan tinggi 2 mm tinggi kolom cairan lain.
Ada hubungan yang mudah antara tinggi cairan pada kolom manometer (atau barometer) dengan rapatannya. Misalkan dun cairan A dan B untuk tekanan tertentu tinggi kolom cairan A adalah hA, se­dangkan tinggi cairan kolom B adalah hB, sehingga
hB = hA x dA/dB
Contoh Soal
SOAL: Suatu cairan dengan berat jenis 1,15 g/mL digunakan dalam suatu manometer terbuka. Pada suatu percobaan, perbedaan dari tinggi permukaan pada kedua tangan adalah 14,7 mm, dimana tangan yang dihubungkan dengan gas yang akan diukur tinggi permukaan air raksanya lebih rendah dari pada permukaan yang terbuka keudara. Bila tekanan barometer 756,00 torr. Berapa tekanan gas yang terperangkap itu?
ANALISIS: Langkah pertama adalah membayangkan percobaan ini. Keadaan yang digambarkan dalam soal sesuai dengan yang diberikan pada manometer tertutup, sehingga kita tahu bahwa harus menambahkan perbedaan tekanan pada tekanan atmosfir.
Pgas = Patm + Pcairan
Tetapi sebelum hal ini dapat dilakukan, kita harus mengubah perbedaan tinggi cairan ke tekanan dalam torr, yang berarti harus digunakan Persamaan diatas
PENYELESAIAN: Kita ubah dahulu perbedaan tinggi permukaan cairan dari "mm cairan " ke "mm Hg" yang ekivalen dengan torr. Rapatan air raksa 13,6 g/mL
hHg = hcairan x dcairan/dHg
= 14,7 mm cairan  x 1,15/13,6
= 1,24 mm Hg
Perhitungan seperti contoh diatas ini juga dapat dipakai untuk menge­tahui berapa tingginya air pada kolom barometer bila yang digunakan adalah cairan bukannya air raksa. Pada tekanan atmosfir tepat 1 atm, tingginya air adalah 1,03 x 104 mm atau dalam satuan Inggris = 33,8 feet (ft). Kenyataan inilah yang menyebabkan mengapa yang dipakai air raksa bukannya air, sebab bila dipakai air, tinggi barometer akan hampir setinggi rumah tingkat tiga. Sedangkan untuk pengetahuan praktis dari perhitungan ini dapat kita mengerti mengapa pompa hisap tak mungkin mengangkat air lebih tinggi dari 33 ft bagaimana pun kerasnya pompa itu bekerja. Walaupun pompa tersebut dapat membuat ruang vakum yang sempurna, tekanan atmosfir sebesar 1 atm hanya dapat mendorong air melalui pipa ke atas setinggi 33,8 ft.
Hubungan antara Tekanan, Volume dan Suhu untuk Sejumlah Gas Tertentu
Telah kita ketahui bagaimana gas berperilaku, berdasarkan pengalaman sehari-hari, bila kita memompakan udara ke wadah dengan volume yang lebih kecil misalnya saja melalui ventil ke ban sepeda tanpa ada udara yang keluar (Gambar berikut) maka tekanan udara akan naik (besar). Anda telah mengetahui bahwa tekanan gas naik bila volumenya dikecil­kan. Andapun tabu bila udara dipanaskan, akan memuai sehingga volu­menya membesar maka berat per satuan volumenya (atau berat jenisnya) akan mengecil. Hal inilah yang menyebabkan mengapa balon yang diisi udara panas akan melayang pada udara sekeliling balon yang suhunya lebih dingin. Sekarang Anda telah mengerti bahwa volume gas akan memuai bila temperatur naik. Sehingga sekarang kita mengerti mengapa wadah aerosol bila diletakkan di api akan meledak, sebab gas pada tempat tertutup bila dipanaskan, tekanannya akan meningkat.
Berdasarkan pengamatan hal inilah yang mendasari mengapa ahli­ahli mempelajari sifat gas secara sistematis. Umumnya percobaannya adalah mengambil suatu sampel gas pada tempat tertutup, lalu mengamati apa yang terjadi bila tekanan, volume dan suhunya diubah-ubah. Karena menyangkut tiga variabel, maka salah satu harus dibuat konstan dan hubungan kedua variabel lain ditentukan. Dari penelitian ini gerba­gai hukum gas dibuat. Misalnya pada tahun 1662 Robert Boyle seorang ahli kimia dan fisika dari Irlandia melaporkan bahwa bila suhu dari suatu sampel gas dibuat konstan, volumenya akan berbanding terbalik


dengan tekanan gasnya. Hubungan ini dikenal sebagai hokum Boyle dan bentuk persamaannya adalah
V ~ 1 / p (pada suhu konstan)
Persamaan ini dapat diganti dengan memasukkan konstanta yang sebanding
V =  konstan
P
atau bila perbandingannya dihilangkan akan didapat
PV = konstan
Dalam tahun 1787 seorang ahli kimia Perancis.yang bernama Jac­ques Alexander Charles tertarik pada balon udara panas yang pada tahun itu mulai terkenal di Perancis. Dipelajarinya apa yang tedadi pada volume gas bila suhu diubah-ubah tetapi tekanannya dibuat konstan. Bila data-data percobaan ini dibuat diagram maka akan didapat bentuk grafik seperti pada Gambar berikut. Di sini volume gas dibuat sebagai fungsi dari suhu dalam Celsius. Karena semua gas nyata akan berkon­densasi bila didinginkan secukupnya, akan terlihat pada suhu rendah, garis-garisnya berbentuk tebal. Tetapi bila garis-garis ini diekstrapolasi kembali ke temperatur 0, akan kembali bertemu pada suhu — 273,15 °C. Keistimewaan yang menonjol adalah sifat ini akan diketemukan pada semua gas, bila volume dan suhu dikembalikan pada volume 0, suhunya selalu kembali pada —273,15 °C. Jadi titik ini mewakili suhu dimana semua gas bila tidak berkondensasi, volumenya akan nol, sedangkan di bawah suhu ini volumenya akan negatif. Tetapi volume negatif tentu saja tidak mungkin. Jadi seharusnya temperatur ini adalah suhu yang paling dingin dan disebut suhu nol absolut.
Seperti telah diketahui, nol absolut sesuai dengan titik nol pada skala temperatur Kelvin (Disebut jugs skala suhu absolut). Ingat bahwa untuk mendapatkan suhu Kelvin harus ditambah 273,15 pads tempera­tur Celsius
TK = ToC + 273.15
Untuk maksud-maksud yang biasa, hanya diperhatikan tiga angka, sehingga 0°C = 273 K dan dapat digunakan hubungan
TK - T.c + 273
Garin yang lurus pads Gambar 11.8 menandakan pads tekanan yang tetap, volume gas adalah berbanding langsung dengan suhu, bila suhu dinyatakan dengan Kelvin. Hal tersebut dikenal dengan hukum Charles dan secara matematik adalah
V ~T (Pada tekanan tetap)
dimana T adalah temperatur absolut (akan dilihat bahwa skala suhu absolut selalu dipakai bila angka temperatur akan dimasukkan ke dalam perhitungan yang ada tekanan atau volume dari gas) Hukum Charles dapat juga dinyatakan sebagai,tanda "sama dengan" dengan menam­bahkan konstan kesebandingan
V/T  = konstan
Yoseph Gay-Lussac, teman seangkatan dari Charles dengan meng­ambil cara pendekatan yang lain, meneliti bagaimana bila volumenya dibuat konstan maka tekanannya akan tergantung dari  suhu. Dia juga menemukan bahwa tekanan juga akan sebanding dengan temperatur absolut pada volume yang tetap. Persamaan hukum Gay-Lussac adalah.
P ~ T (pads volume konstan)
atau
P/T  = konstan
Hukum Gabungan Gas
Tiga hukum gas di etas dapat disatukan menjadi sebuah hukum yang dikenal dengan hukum gabungan gas yang dinyatakan dengan
PV/T = konstan
Hukum ini biasanya dipakai dalam soal-soal dimana diberikan be­berapa keadaan suhu, tekanan dan volume untuk sejumlah gas tertentu dan kita, ingin mengetahui perubahan variabel ini bila variabel lainnya diubah. Bila keadaan mula-mula kita beri tanda masing-masing Pi, Vi dan Ti sedangkan keadaan akhir dengan Pf, Vf dan Tf, maka hukum gabungan gas dapat ditulis dengan bentilk yang sangat penting yaitu
(Pi, Vi )/ Ti = (Pf, Vf)/Tf 
Contoh Soal
SOAL: Suatu sampel gas dalam. wadah 300 mL akan memberikan tekanan sebesar 625 torr pads suhu 25 oC. Berapa tekanannya bila gas ini kita tempat­kan pads wadah 500 mL dan suhunya 25 oC?
ANALISIS: Dari soal ini dapat kita ketahui bahwa sejumlah gas tertentu dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain dengan mengubah tekanan, suhu dan volumenya, maka harus dipakai rumus hukum gabungan gas.
Seperti terlihat pada jawaban, sebaiknya dibuat label dari data sesuai de­ngan yang diberikan yaitu keadaan mula-mula dan akhir. Cara ini dapat meng­hindari kesalahan dan membantu mengenali kuantitas yang belum di ketahui yang perlu diselesaikan.
Kita gunakan persamaan hokum gabungan untuk memecahkan soal ini, yaitu tekanan akhir yang dicari. Persamaan ini akan berbentuk
Pf = Pix(Vi /Vf) x(Tf / Ti)
Perhatikan bahwa tekanan akhir sama dengan tekanan mula-mula dikalikan perbandingan volume dan perbandingan suhu. Tentu saja dengan memasukkan jumlah yang sesuai dengan datapun hasil akhir akan didapat. Selain itu untuk memeriksa betul tidaknya penggunaan Persamaan diatas secara benar, dapat dipakai cara pemikiran yang logis. Untuk melakukan hal ini kita gunakan pengaruh volume dan suhu pada tekanan gas untuk menentukan jumlah yang mana akan menjadi pembilang atau penyebut pada perbandingan tersebut. Untuk membantu Anda berpikir, di bawah ini diberikan cara peme­cahan soal-soal.
PENYELESAIAN: Dimulai dengan membuat tabel data. Harus diingat bahwa suhu diubah dahulu menjadi Kelvin. Sehingga 25 oC menjadi 298 K (25 + 273) dan 50 oC menjadi 323 K.
Mula-mula (i)              Akhir (f)
P                    625 torr                      ?
V                           300 mL                   500 mL
T                     298 K                      323 K
Sebetulnya cukup mudah untuk memasukkan data ini ke dalam persamaan. Tetapi marilah kita pakai cara pemikiran yang logis dalam menentukan bagai­mana cara memastikan ratio volume dan suhu untuk mendapat tekanan akhir.
Pf = P, x (perbandingan volume) x (perbandingan suhu)
Kita bayangkan bahwa untuk mendapat hasil akhir, kita lakukan dalam dua langkah, mula-mula pada temperatur tetap, volume diubah, kemudian pada langkah kedua volume kita buat konstan sedangkan suhu diubah.
Perhatikan bahwa dalam soal ini volumenya naik dari 300 mL menjadi 500 mL. Kita ketahui hal ini akan menyebabkan tekanan turun karena tekanan gas akan berbanding terbalik dengan volumenya. Dengan lain perkataan, bila volu­me naik, tekanan turun, maka perbandingan volume di sini harus demikian rupa agar tekanan akhir lebih kecil dari tekanan mula-mula dengan demikian volume yang kecil letaknya pada pembilang dalam perbandingan volume. Volume yang kecil adalah volume asal, maka perbandingan volumenya adalah
(300 mL / 500 mL)
Sehingga kita dapatkan
Pf = P, x (300 mL / 500 mL) x (perbandingan suhu)
= 625 x (300 mL / 500 mL) x (323/298)
                       = 406 torr
REFERENSI :
  1. Chemistry, Reactions, Structure, and Properties., Clyde R.Dilliard & David E.Goldberg
  2. Kimia Universitas, Asas & Struktur,. James E. Brady







Kunjungi Facebook Saya di https://www.facebook.com/Zentheis?ref=nf
»»  READMORE...

REAKSI KIMIA DAN SUSUNAN BERKALA


Setelah belajar mengenai bentuk atom dan cara atom saling tarik menarik dengan adanya ikatan kimia, kita akan melihat kereaktivan zat kimia untuk mempelajari bahwa sifat-sifat kimia dari zat ada hubung­annya dengan struktur elektron dan ikatannya. Salah satu tujuan utama adalah menghubungkan sifat-sifat kimia dan reaksi dari unsur dengan tempatnya dalam Susunan Berkala. Dengan cara ini, kenyataan dari zat kimia akan lebih mudah diingat dan susunan berkala akan menjadi petunjuk bagi kita dalam mengikuti arah kereak­tivan kimia.
Reaksi Dari Logam Sebagai Zat Pereduksi
Telah dipelajari bahwa logam adalah unsur dengan energi ionisasi dan elektronegativitas yang rendah. Logam sangat mudah kehilangan elek­tron dan sangat sukar untuk mendapatkannya kembali. Akibatnya bila bereaksi dengan unsur nonlogam akan berbentuk ion positif (kation) dan dalam proses ini ia akan teroksidasi. Logam dalam berekasi berperan sebagai zat pereduksi. Sebagai contoh adalah reaksi logam natrium dengan klor membentuk natrium klorida.
2Na(s) + Cl2(g) à  2NaCI(s)
Klor akan mengoksidasi natrium sehingga terbentuk ion Na+, dan dalam proses ini dikatakan bahwa natrium mereduksi klor menjadi Cl- (anion); klor menjadi oksidator dan natrium reduktornya.
Kemampuan logam sebagai zat pereduksi tak terbatas pada reaksi­nya dengan unsur-unsur nonlogam. Banyak zat-zat lain dapat mengok­sidasi logam sehingga logam juga berperan sebagai reduktor. Dengan mempelajari reaksi-reaksi ini, kita dapat mengurut logam-logam ber­dasarkan daya reduksinya.
Reaksi logam dengan asam
Salah satu cara. khas dari logam bertindak sebagai zat pereduksi adalah reaksinya dengan asam. Contohnya adalah reaksi dari seng dengan asam klorida atau asam. sulfat
Zn(s) + 2HCI(aq)  à ZnC12(aq) + H2(g)
Zn(s) + H2SO4(aq) à  ZnSO4(aq) + H2(g) H2(g)
Hasil akhir dari kedua persamaan ion adalah sama yaitu
                   Zn(s) + 2H+(aq)   à Zn2+(aq) + H2(g)
Pada reaksi ini, zat yang dioksidasi adalah seng sedangkan yang dire­duksi adalah ion hidrogen. Maka seng adalah reduktor dan ion hidrogen oksidator. (Ingat bahwa dalam larutan H+ terikat H2O, sehingga yang bereaksi adalah ion hidronium, H30+). Untuk mudahnya, kita singkat H30+ sebagai H+ karena ion hidrogen merupakan "komponen aktif dalam ion hidronium.
Dalam larutan air HCI dan H2SO4 , satu-satunya zat pengoksidasi adalah H+, dalam keadaan biasa baik Cl- atau SO4 2- tak akan direduksi. Asam semacam HCI dan H2SO4, dimana oksidator yang efektif hanya H+, dinamakan asam bukan pengoksidasi. (Kedengarannya sangat aneh, sebab asam ini akan mengoksidasi logam, tetapi istilah ini dipakai untuk membedakan dengan zat-zat lain yang anion dari asamnya meru­pakan oksidator juga).
Logam-logam lain yang juga bereaksi dengan asam yang tak meng­oksidasi adalah besi, magnesium dam aluminium. Pada tiap reaksi akan dihasilkan hidrogen dan ion logamnya dalam larutan.
Fe(s) + 2H+(aq)      à 4 Fe2+(aq) + H2 (g)
Mg(s) + 2H+(aq)  à Mg2+(aq) + H2(g)
2Al(s) + 6H+(aq)  à 2Al3+(aq) + 3H2(g)
Reaksi umum dari logam dengan asam yang tak mengoksidasi
logam + H+   à  ion logam + H2 (g)
Seperti dikatakan pada paragraf sebelumnya, tak semua logam dapat dioksidasi oleh ion hidrogen. Dua logam umum termasuk ini adalah ternbaga dan perak. Bila salah satu logam ini diletakkan dalam larutan HCI, tak akan terjadi reaksi. Ini membuktikan bahwa beberapa logam seperti tembaga dan perak akan lebih sukar dioksidasi daripada logam lain, sehingga ion H+  tak dapat mengoksidasinya. Dibutuhkan oksidator yang lebih kuat daripada H+ untuk mengoksidasi logam-logam tersebut.
Asam yang dapat melarutkan tembaga dan perak adalah asam nitrat, HNO3. Asam ini adalah salah satu contoh dari asam pengoksidasi, selain ion H+ , larutan asam ini juga mengandung ion nitrat, suatu oksi­dator yang lebih hebat dari pada ion H+. Reaksi yang hebat antara tembaga dan HNO3 pekat diperlihatkan dengan menghasilkan gas merah coklat yang keluar adalah nitrogen dioksida, NO2, yang terbentuk pada reaksi
Cu(s) + 2NO3-(aq) + 4H+(aq)   à Cu2+(aq) + 2NO2 (g) + 2H20
Pada reaksi ini ion, 2NO3- direduksi menjadi NO2. Gas H2 tak terbentuk sebab H+ tak direduksi, ion hidrogennya bergabung dengan H20 yang juga dihasilkan reaksi ini. Bila NO3- bekerja sebagai oksidator, hasilnya tergantung pada suatu tingkat dari berapa kepekatan dari asamnya. Misalnya dengan tembaga terjadi reaksi-reaksi berikut
Dengan HNO3 encer
3Cu(s) + 2 NO3- (aq) + 8H+(aq) à 3Cu2+(aq) + 2NO(g) + 4 H20
Dengan HNO3 pekat
Cu(s) + 2 NO3- aq) + 8H+(aq)    à  Cu2+(aq) + 2NO2(g) + 2 H20
Reaksi yang sama akan terjadi dengan perak. Sekali lagi, tak tergantung dari konsentrasi HNO3, H2 tetap tak terbentuk pada reaksinya. Sebagai gantinya ion nitrat akan direduksi menjadi gas NO atau NO2.
Telah dikatakan bahwa asam sulfat adalah salah satu contoh dari asam yang tak mengoksidasi dan memang demikianlah bila asam sulfat berada sebagai larutan encer dalam air. Tetapi bila larutan asamnya pekat dan panas maka dapat bekerja sebagai oksidator. Misalnya asam sulfat pekat dan panas akan bereaksi dengan tembaga sebagai berikut:
Cu + 2H2SO4 + kalor    à  CuSO4 + S02 + 2 H20
Hasil akhir persamaan ionnya
Cu(s) + 4H+(aq) + SO42-(aq) à Cu2+ + S02(g) + 2H20
Perhatikan bahwa dalam hal ini ion sulfat, SO42-yang akan direduksi menjadi S02 bukan H+.
Kecenderungan logam untuk bereaksi dengan asam-asam memberi­kan suatu cara kasar untuk membagi logam-logam berdasarkan kemam­puannya untuk bekerja sebagai reduktor. Logam-logam seperti seng, besi, magnesium dan aluminium yang dapat bereaksi dengan ion H+, lebih mudah dioksidasi sehingga merupakan reduktor yang lebih baik daripada seng dan perak, yang tak bereaksi dengan asam-asam bukan pengoksidasi. Tetapi bagaimana cara membedakan antara logam-logam Zn, Fe, Mg dan Al dan bagaimana bila dibandingkan dengan Cu dan Ag dalam hal kemampuannya sebagai zat pereduksi?
Deret aktivitas logam
Reaksi dari suatu asam dengan logam merupakan sifat dari reaksi kimia dari golongan yang lebih luas dimana suatu unsur akan menggantikan unsur lainnya dari suatu senyawa. Ada yang menyebutnya sebagai reaksi pergantian tunggal. Contoh lain dari reaksi semacam ini adalah perubahan yang terjadi bila sebatang logam seng dimasukkan ke dalam
Reaksi antara seng dan ion tembaga.): Batang seng dengan gelas kimia yang mengandung larutan tembaga sulfat.: Ketika seng dimasukkan ke dalam larutan tembaga sulfat, ion-ion tembaga direduksi menjadi logam Cu sedangkan sengnya larut.: Sesudah beberapa waktu kelihatan seng akan dilapisi oleh tembaga yang berwarna merah coklat. Perhatikan bahwa warna biru dari larutan CuSO4 akan berkurang.
larutan yang mengandung tembaga sulfat, sesudah be­berapa waktu terlihat pada batang seng ada pelekatan dari seng yang berwarna merah coklat, sedangkan warna biru dari tembaga akan me­mucat. Bila larutannya dianalisis, ternyata akan mengandung seng. Ha­sil akhir reaksi ion yang terjadi
Zn(s) + Cu2+(aq) à  Cu(s) + Zn2+(aq)
Terlihat bahwa reaksinya sama dengan reaksi antara seng dan ion hidro­gen
Zn(s) + 2H+(aq) à H2(g) +,Zn 2+(aq)
Reaksi seperti seng dengan ion tembaga ini memungkinkan kita untuk membuat muatan logam-logam berdasarkan daya oksidasinya. Misalnya baru saja kita lihat bahwa seng dapat mereduksi ion tembaga dalam larutan. Tetapi bila kita memasukkan batang tembaga ke dalam larutan yang mengandung ion Zn +2, tak terjadi reaksi apa-apa.
Cu(s) + Zn2+(aq)  Tak ada reaksi
Jadi, seng dapat menggantikan tembaga dari senyawanya, tetapi tem­baga tak dapat menggantikan seng dari senyawanya.
Walaupun logam seng akan menggantikan tembaga dari larutan yang mengandung ion Cu+2, tetapi logam tembaga tak akan menggantikan ionZn+2 dari larutannya. Terlihat di sini bahwa lempeng tembaga tak mengalami perubahan sesudah dimasukkan ke dalam larutan seng sulfat
Dengan perkataan lain, seng secara sukarela akan memberikan elektronnya kepada ion tembaga, tetapi tembaga tak mau memberikan elektronnya kepada ionseng. Berarti seng lebih mudah dioksidasi dari pada tembaga. (Juga telah dibuktikan dengan pengarah ion H+ pada logam seng dan tem- baga)
Dengan membandingkan kemampuan logam-logam untuk meng­gantikan logam lain dari senyawanya, kita dapat membuat deretan logam berdasarkan penurunan daya teroksidasinya. Misalnya: reaksi -reaksi percobaan berikut ini -
Fe(s) + Pb2+(aq) à Fe2+(aq) + Pb(s)
Mg(s) + Fe2+(aq) à Mg2+(aq) + Fe(s)
Pb(s) + Cu2+(aq) à Pb2+(aq) + Cu(s)    
Dari reaksi-reaksi diatas dapat disimpulkan bahwa (1) Besi lebih mudah dioksidasi daripada timah hitam (Pb).(2) Magnesium lebih mudah dioksidasi daripada besi berarti magnesium juga lebih mudah dioksodasi daripada timah hitam.(3) Timah hitam lebih mudah dioksidasi daripada tembaga. Sehingga deret penurunan kemudahan dioksidasi adalah:
Mg > Fe > Pb > Cu
Daftar deret logam-logam yang dibuat berdasarkan cara ini disebut deret keatifan. Daftar yang lebih lengkap diberikan pada tabel berikut:

Logam
Penurunan daya  untuk dioksidasià
Li   à Li+  + e-
Kenaikan daya ion-ion logam untuk dioksidasi à
Lithium
Li   à Li+  + e-
Cesium
Ca  à Ce+  + e-
Rubidium
Rb   à Rb+  + e-
Potasium
K   à K+  + e-
Barium
Ba   à Ba++  + 2e-
Strontium
Sr   à Sr++  + 2e-
Calsium
Ca   à Ca++  + 2e
Sodium
Na   à Na+  + e
Magnesium
Mg   à Mg++  + 2e
Zinc
Zn   à Zn++  + 2e
Chromium
Cr   à Cr+++  + 3e
Iron
Fe   à Fe++  + 2e
Cadmium
Cd   à Cd++  + 2e
Cobalt
Co   à Co++  + 2e
Nickel
Ni   à Ni++  + 2e
Tin
Sn   à Sn++  + 2e
Lead
Pb   àPb++  + 2e
Hydrogen
H2   à 2H+  + 2e
Copper
Cu   à Cu+  + 2e
Silver
Ag    à Ag++  + 2e
Mercury
Hg   à Hg++  + 2e
Platinum
Pt    à Pt++  + 2e
Gold
Au   à Au+++  + 3e




Logam-logam yang berada di atas yang paling mudah dioksidasi; sedangkan yang di bawah paling sukar dioksidasi. Perhatikan bahwa logam-logam alkali dan alkali tanah berada di atas, berarti mudah dioksidasi. Dan logam-logam mulia berada di bawah, jadi sukar dioksidasi.
Deret keaktivan juga dapat,dipakai sebagai pembanding untuk kemudahan dari ion-ion logam untuk direduksi. Bila suatu logam sukar dioksidasi, maka kationnya mudah direduksi. Misalnya logam emas sangat sukar dioksidasi tetapi ionnya Au+3 sangat mudah direduksi.
Salah satu kegunaan dari deret keaktivan ini ialah kita dapat meng­gunakan untuk menentukan hasil reaksi penggantian tunggal. Tiap logam dalam daftar ini dapat menggantikan logam di bawahnya dari persenya­waannya. Misalnya, magnesium berada di atas besi dalam deret ini. Artinya magnesium akan mudah dioksidasi sedangkan besinya akan direduksi. Jika logam magnesium ditempatkan dalam larutan senyawa besi, magnesium itu akan dioksidasi dan ion besi akan direduksi. Setelah reaksi selesai, larutannya akan mengandung senyawa besi.
Deret keaktifan juga dapat digunakan untuk meramalkan reaksi kimia. Misalnya apa yang terjadi bila sepotong timbal (Pb) dimasukkan ke dalam larutan alumunium sulfat. Dalam deret keaktifan, ternyata timbal berada di bawah alumunium, berarti logam timbal tidak dapat mereduksi logam alumunium, sehingga reaksi berikut tidak akan terjadi.
Pb (s)  +  Al3+  à  Tak terjadi
Lain halnya bila sepotong logam krom dimasukkan ke dalam larutan perak nitrat. Logam krom dalam deret keaktifan berada di atas logam perak sehingga logam krom dapat mereduksi logam ion perak sesuai reaksi berikut:
Cr (s)  +  Ag+  (s)  à    Cr3+   (s)  +  Ag (s)   
Perlu diketahui bahwa hydrogen juga berada dalam deret kektifan logam, dimana letaknya merupakan batas dari logam-logam yang dapat dioksidasi oleh ion hydrogen. Setiap logam yang letaknya di atas hidroogen dapat mereduksi ion H+  untuk membentuk H2, sehingga semua logam diatas hydrogen dapat bereaksi dengan asam yang tak menhoksidasi seperti HCl.
Kecenderungan Berkala Dalam Reaktifitas Logam-logam
Bila kita menggunakan istilah reaktivitas dalam menggambarkan sifat­sifat dari logam-logam; berarti mudah atau sukarpya logam tersebut me­lepaskan elektron untuk menjadi kation. Suatu logam yang reaktif adalah logam yang mudah melepaskan elektronnya berarti mudah dioksidasi.
Deret aktivitas yang dibicarakan sebelum ini membuat peringkat logam berdasarkan reaktivitasnya. Walaupun deret ini berguna untuk menjawab soal-soal seperti dua contoh soal sebelumnya, tetapi sering hanya berguna untuk mengetahui keragaman reaktifitas logam-logam dalam susunan berkala---untuk mengetahui penempatan lokasi dari logam-lo­gam yang reaktif dan yang tidak reaktif. Kecenderungan berkala sema­cam ini digambarkan pada susunan berkala unsur-unsur.
Dalam tabel susunan berkala unsur-unsur,  terlihat bahwa kecenderungan dalam reaktivitas secara kasar akan sejajar dengan keragaman dalam energi ionisasi, hal ini tak mengherankan karena, ketika bereaksi, logam akan kehilangan elektronnya. Tetapi kesejajaran hanyalah perkiraan, karma energi ionisasi berlaku bagi atom gas-gas yang terisolasi yang membentuk ion gas-gas yang juga terisolasi. Pada reaksi kimia, logam­logarn biasanya bereaksi sebagai zat padat dan menghasilkan ion dalam larutan sehingga energi ionisasi hanya termasuk salah sate faktor saja.
Perhatikan bahwa unsur-unsur yang paling reaktif berada pada go­longan IA dan IIA. Unsur-unsur go­longan IA dan IIA pada deret aktivitas terletak di atas. Juga perhatikan bahwa logam-logam yang paling kurang reaktif tempatnya berdekatan dalam periode 6 di sebelah kanan dari pusat tabel susunan berkala dalam daerah logam transisi.
Kegunaan dari logam untuk dioksidasi adalah suatu sifat yang sangat penting. Banyak kegunaan dalam praktek dari unsur-unsur tergantung dari mudah atau sukamya sifat oksidasi ini. Hal ini disebabkan karena oksidasi udara pada logam-logam yang dinamakan korosif akan meng­hasilkan zat yang tak mempunyai lagi sifat-sifat logam. Korosif atau karatan akan menghilangkan sifat-sifat yang diinginkan dari logam. Oleh karena itu, logam-logam yang sangat reaktif seperti yang terletak pada golongan IA dalam praktek tak digunakan, lagi pula tak ada yang perlu diletakkan pada udara terbuka.
Logam yang kemudahan untuk dioksidasinya sedang-sedang saja seperti besi misalnya karena sifat-sifat fisiknya sangat diinginkan dapat dipakai. Tetapi bila akan terjadi keadaan yang membuat karatan, logam tersebut harus dilindungi. Jumlah biaya yang besar setiap tahun dikeluarkan untuk melapisi baja yang dibuat jembatan agar tidak ber­karat.
Untuk logam-logam yang dapat mereduksi ion H+ menjadi H2 (yaitu yang dapat bereaksi dengan asam-asam yang tak mengoksidasi), ada kesejajaran yang menarik antara kemudahannya untuk dioksidasi dan kehebatan reaksinya dengan ion-ion hidrogen umumnya, makin mudah logam teroksidasi, lebih cepat H2 akan dikeluarkan (suhu dan konsen­trasi dibuat konstan). Reaksi umumnya sama; logam akan kehilangan elektron menjadi kation, sedangkan ion H+  akan direduksi menjadi H2. Misalnya
M(s) + 2H+(aq)  à  M2+(aq) + H2(9)
dimana M adalah logam seperti Fe, Zn atau Mg. Walaupun hasil reaksi­nya sama, tapi kecepatan reaksinya berbeda. Perbedaan ini disebabkan karena magensium lebih mudah dioksi­dasi daripada seng dan seng sendiri lebih mudah dioksidasi dari pada besi. Kesejajaran ini hanya prakiraan, jadi kita tidak dapat benar-benar menggunakannya untuk menggantikan deret aktivitas dalam mempe­ringkatkan logam menurut mudahnya mereka teroksidasi.
Dari semua logam, golongan IA adalah yang paling mudah dioksidasi. Sehingga berbahaya bila kita meletakkan logam-logam alkali seperti na­trium dan kalium dalam asam klorida karena akan terjadi reaksi ledakan yang hebat. Logam-logam ini karena energi ionisasinya sangat rendah, maka mudah sekali dioksidasi oleh suatu sumber proton sehingga logam­logam ini, akan bereaksi secara hebat dengan air dan menghasilkan gas hidrogen. Untuk natrium reaksinya adalah:
2Na(s) + 2H20 (l)   à 2Na+(aq) + 20H-(aq) + H2(g).



REFERENSI :
  1. Chemistry, Reactions, Structure, and Properties., Clyde R.Dilliard & David E.Goldberg
  2. Kimia Universitas, Asas & Struktur,. James E. Brady




Kunjungi Facebook Saya di https://www.facebook.com/Zentheis?ref=nf
»»  READMORE...